Indonesia-Jepang Kerja Sama Lakukan Penelitian Gempa Bumi

man-headphones
Penandatanganan perjanjian kerja saama antara BMKG dengan EPRC. (Foto: BMKG)

zonalima.com – Indonesia yang diwakili Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan kerja sama dengan Jepang yang diwakili EPRC (Earthquake Prediction Research Japan) untuk melakukan penelitian terkait gempa bumi.

Penelitian ini dimaksudkan untuk memprediksi gempa bumi dengan menggunakan analisa data yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan ‘big data’ (data besar) dan pemanfaatan ‘artificial intelligence’ (AI) yang merupakan kecerdasan buatan.

Penandatanganan perjanjian kerja sama ini dilakukan oleh Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng dan perwkilan EPRC Kasumi Sato, pada Senin (10/7/2017).

Mereka berharap kerja sama ini bisa memperkuat kapasitas kedua lembaga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat mengembangkan dan meningkatkan kajian prediksi dan prekursor gempa bumi yang telah dan sedang dengan terus-menerus oleh kedua lembaga tersebut.

Selain itu, melalui kegiatan penelitian ini, diharapkan juga dapat diperoleh hasil yang lebih akurat dalam rangka mengurangi risiko gempa bumi serta bencana kolateralnya seperti tsunami, dan nantinya diharapkan juga bisa meminimalisir jumlah korban jiwa dan harta benda.

Pada kerja sama ini, BMKG diharapkan bisa menyediakan data pengamatan intensitas gempa bumi, data kejadian gempa bumi, data pengamatan tinggi muka air tanah yang dilakukan oleh stasiun precursor gempa bui dan data global positioning system (GPS).

Lebih lanjut lagi, BMKG juga akan mengkoordinasikan integrasi berbagai data lainnya seperti suhu tanah, konsentrasi gas randon data magnet bumi dan data intensitas gempa bumi di Indonesia serta sistem terpadu yang dimiliki oleh BMKG, yaitu Ina-Tews (Indonesia-Tsunami Early Warning System).

Hal lain yang juga akan dilakukan BMKG adalah menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten di bidangnya untuk melaksanakan kegiatan peneitian bersama ini.

“Melalui prekursor gempa bumi kita dapat meneliti tanda-tanda terjadinya gempa bumi. Ini menjadi penting karena kalau ini menjadi bagian aktivitas operasional dapat membantu sistem peringatan dini tsunami,” ujar Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng kepada media.

Seperti diketahui, untuk saat ini BMKG telah memiliki delapan stasiun pengamatan perkursor guna mengamati geometric, yaitu Stasiun Geofisika Tuntungan, Stasiun Geofisika Gunung Stoli, Stasiun Geofisika Padang Panjang, Stasiun Observasi Liwa, Stasiun Geofisika Kupang, Stasiun Geofisika Tangerang, Stasiun Geofisika Manado dan Stasiun Geofisika Angkasa Jayapura.

Dalam kesempatan tersebut, Andi sendiri mengakui bahwa EPRC memiliki database yangbai hingga 20 tahun terakhir, sehingga dari sini BMKG bisa bekerja sama dengan EPRC bagaimana menggunakan big data yang diperoleh dari precursor, GPS, elektromagnetik, radon, permukaan dan permukaan tanah serta pemanfaatan AI untuk memprediksi gempa bumi.

“Melalui kerja sama inilah, akan menambah keyakinan kami untuk memprediksi gempa bumi,” imbuh Andi Eka.

Dalam melakukan prediksi gempa bumi, parameter yang digunakan antara lain adalah kekuatan, lokasi dan kedalaman, maka diperlukan peningkatan integrasi sistem yang telah dimiliki BMKG. Lebih lanjut lagi, ia mengatakan bahwa kerja sama ini diharapkan bisa mejadi saranan belajar bagi Indonesia terkait big data dengan sistem super computer.

“Terkait kegiatan penelitian gempa bumi, BMKG akan menggandeng LIPI dan Lapan,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Direktur Manager EPRC Shigeyoshi Yagishita mengatakan bahwa sebelum tahun 2011 terjadi gempa bumi di Jepang, didahului gempa-gempa kecil dengan kekuatan kurang dari enam skala richter (SR) dari rekaman sensor. Dalam lima tahun terakhir, EPRC telah dapat memprediksi gempa bumi di atas enam SR dengan tinggak akurasi mencapai 82 persen.

Dalam konteks Jepang, prediksi ini dilakukan dengan menganalisa data dalam jumlah sangat besar atas data observasi pergerakan lempeng, tinggi muka air tanah, synthetic aperture radar serta berbagai data internet-of-things lainnya seperti produksi protein pada hewan di seluruh jepang, gelombang elektroagnetik serta pasang surut air laut.

Sebagai platform dan lembaga penelitian nirlaba yag terdiri atas berbagai intitusi dan perguruan tinggi di Jepang, EPRC akan memfasilitasi penyediaan alih ilmu pegetahuan dan teknologi untuk kesuksesan penelitia ini.

Tidak hanya itu, sebagai bagian dari ‘Pengembangan Kemitraan Riset Sains dan Teknologi Jepang yang Berkelajutan (SATREPS)’ atas fasilitasi JSTA (Japan Science and Technology Agency) dan JICA (Japan Iternatioal Cooperation Agency) mereka akan meyediakan beasiswa pendidikan S2 dan S3 dalam bidang prediksi gempa bumi kepada BMKG, demikian dilansir laman BMKG.

Baca juga berita aslinya di sini. (*)

Terpopuler

To Top