Intelijen Bisnis, Cara Jitu Hadapi Ketidakpastian Bisnis

man-headphones Stanislaus Riyanta, analisis intelijen, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia, sedang menempuh studi Doktoral di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. (Foto: Ist)

Jakarta, ZONALIMA.COM - Dinamika politik di Indonesia sudah memanas. Situasi ini berhubungan dengan pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019.

Analisis intelijen, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta mengatakan, dampak tahun politik yang akan berjalan selama 2 tahun ke depan ini akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, termasuk sektor bisnis. Jika sektor bisnis terkena dampak negatif, maka akan terjadi efek domino bagi seluruh masyarakat. 

Stanislaus mengatakan, politik, sebagai faktor eksternal, mempunyai pengaruh cukup kuat terhadap sektor bisnis. Namun perlu dipahami bahwa secara normal politik tidak bisa dikendalikan oleh sektor bisnis.  Hal ini sangat berbeda dengan faktor internal bisnis seperti tenaga kerja, produksi, atau modal yang bisa dikendalikan penuh. Walaupun dalam kasus tertentu politik bisa dikendalikan jika sektor bisnis tersebut mempunyai “kekuatan” yang luar biasa.  

Menurutnya, dampak politik bagi sektor bisnis tidak mudah diprediksi mengingat dalam politik mengandung ketidakpastian yang tinggi. 

Stanilaus mencontohkan, salah satu dampak politik bagi sektor bisnis adalah perubahan regulasi atau kebijakan yang dibuat oleh kepala daerah baru. Pergantian kepala daerah dalam periode tertentu bisa membuat perubahan regulasi dan kebijakan yang berdampak kepada sektor bisnis. Masing-masing elite politik mempunyai kepentingan dan keberpihakan.

Hal inilah, katanya, yang menyebabkan keputusan dan kebijakan yang diambil ketika elite politik menjadi kepala daerah bisa berbeda dengan pendahulunya. Perbedaan arah politik ini yang memicu ketidakpastian bisnis.

Ketidakpastian bisnis ini, jelas Stanislaus, berujung pada sikap wait and see dari pebisnis. Sikap wait and see ini dapat dipahami mengingat pebisnis tidak ingin masuk dalam arena ketidakpastian yang bisa berdampak pada kerugian usaha. Karena itu, sektor bisnis harus bisa mendeteksi, memprediksi, dan menciptkan strategi untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. 

Stanislaus mengatakan, salah satu cara untuk memprediksi ketidakpastian itu adalah dengan menggunakan intelijen bisnis. “Intelijen bisnis bisa digunakan untuk mendeteksi dini dan melakukan pencegahan dini atas ancaman bisnis. Intelijen bisnis sangat penting mengingat ancaman bisnis tidak hanya dari kompetitor tetapi juga dari faktor-faktor lain yang semakin kompleks,” ujar Stanislaus yang sedang menempuh studi Doktoral di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia ini.

Jika sektor bisnis tidak mempunyai indera untuk melihat sejak dini ancaman tersebut, maka jika terjadi “pendadakan strategis”, perusahaan tidak siap dan strategi yang digunakan untuk menghadapinya serba darurat  dan kurang terencana. Dampak dari hal tersebut  bisa mengarah kepada kerugian bahkan tutupnya bisnis.

Ketidakpastian bisnis, kata Stanislaus, harus diprediksi dan menjadi salah satu skenario yang harus dihadapi perusahaan. “Skenario, dari yang terbaik hingga terburuk, harus bisa dipetakan oleh sektor bisnis. Selanjutnya disusun strategi untuk menanggapi masing-masing skenario. Jika skenario terburuk yang terjadi maka sektor bisnis tersebut sudah siap dan bisa terhindar dari kegagalan bisnis karena sudah mempunyai strategi tanggap skenario yang sudah terencana dan diperhitungkan sebelumnya,” ujarnya. 

Kemampuan intelijen sangat penting bagi sektor bisnis. Karena itu, katanya, sudah saatnya intelijen dipelajari dan digunakan untuk menjaga keberlanjutan bisnis. “Tantangan bisnis yang semakin kompleks dengan ancaman yang berdimensi nasional, regional dan global, tidak cukup hanya dihadapi dengan cara-cara manajemen konvensional,” pungkasnya.

 

Terpopuler

To Top