Sementara, Ada 187 Organisasi Penghayat di Indonesia

man-headphones
Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh. (Foto: Puspen Kemendagri)

zonalima.com – BERDASARKAN data yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sementara tercatat ada sekitar 187 organisasi penghayat yang tersebar di 13 provinsi. Dari keseluruh organisasi penghayat itu, sebanyak 160 organisasi masih aktif dan 27 sisanya sudah tidak aktif. Demikian dikatakan Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh.

Zudan memperkirakan, jumlah organisasi penghayat itu ke depan bakal bertambah pascadikeluarkannya putusan Mahmakah Konstitusi (MK) yang mengharuskan pengisian penghayat kepercayaan pada kolom agama di KTP elektronik (e-KTP) bagi para penghayat.

Sementara ini, jelas Zudan, jumlah penghayat yang menuliskan aliran kepercayaannya pada data kependudukan baru sekitar 138.971 jiwa atau sekitar 3,4 persen.

“Data ini pasti melonjak, jumlah saat ini memang masih kecil,” kata Zudan dalam Lokakarya Pers Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Kemendagri di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar), Minggu (12/11/2017).

Salah satu contoh organisasi penghayat yang belum mendaftarkan diri ke Kemendikbud, lanjut Zudan, misalnya Sunda Wiwitan. Ke depan, para penghayat Sunda Wiwitan itu tentu harus mendaftarkan dulu organisasinya ke Kemendikbud agar diakui oleh negara. Setelah itu, baru para penghayatnya dapat mencantumkan penghayat kepercayaan pada kolom e-KTP-nya.  

Kriteria organisasi penghayat itu sendiri kriterianya ditetapkan oleh Kemendikbud.

“Sunda Wiwitan belum terdaftar di Kemendikbud. Nanti mereka harus mendaftar,” kata Zudan.

Terkait teknis pencantuman kolom agama bagi para penghayat di kolom agama KTP-el, Zudan mengatakan, hal itu masih didiskusikan dengan para pihak terkait, termasuk Kemendikbud dan Kementerian Agama (Kemenag). Alternatif yang menguat saat ini adalah pengisian kolom agama dengan mencantumkan “Penghayat Kepercayaan” atau “Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa”.

Jika mengisi kolom agama dengan nama organisasi penghayat, sambung Zudan, dinilai tak efektif. Ada ratusan nama organisasi penghayat, diantaranya Gereja Adat Musi, Purwo Madio Wasono, Galuh Puji Rahayu, Ilmu Roso Sejati, Golongan Siraja Batak, Batin Suku Alit, Persatuan Warga Rahayu Slamet, dan Ilmu Ghoib.

Di sisi lain, tambahnya, jika mencantumkan nama organisasi penghayat akan cukup menyulitkan warga dalam pencatatan dokumen kependudukannya bila ada organisasi penghayat yang nantinya tidak aktif lagi atau dibubarkan oleh pemerintah.

“Kita alternatif pengisian kolom agamanya mengkerucut ke Penghayat Kepercayaan atau Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Terpopuler

To Top