September 2017, Ekspor Mainan Asal Indonesia Capai USD228,39 Juta

man-headphones
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: Istimewa/kemenperin.go.id)

zonalima.com - MENTERI Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, kinerja industri mainan memberikan kontribusi cukup signifikan bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional. Ekspor komoditi mainan asal Indonesia sampai dengan bulan September tahun 2017 ini mencapai USD228,39 juta.

“Kami sampaikan bahwa ekspor komoditi mainan sampai dengan bulan September tahun 2017 ini mencapai USD228,39 juta atau naik sebesar 8,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016 (YoY) sebesar USD209,59 juta,” kata Airlangga pada Peringatan Ulang Tahun ke-25 PT Mattel Indonesia di Cikarang, Bekasi, Senin (4/12/2017).

Airlangga mengatakan, industri mainan tergolong sektor padat karya yang berorientasi ekspor. Penyerapan tenaga kerja di sektor industri mainan sebanyak  23.116 orang dengan nilai investasi pada tahun 2016 sebesar USD14,76 juta. Sampai triwulan III tahun 2017 telah mencapai USD9,52 juta.

“Aktivitas industri yang konsisten membawa dampak yang luas bagi perekonomian nasional. Multiplier effects tersebut, antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerjalokal, dan penerimaan devisa dari ekspor,” kata Airlangga seperti dilansir kemenperin.go.id.

Airlangga menambahkan, pihaknya tengah mengusulkan suatu skema insentif baru bagi industri nasional agar kinerjanya semakin produktif dan berdaya saing di tingkat global. Salah satunya untuk industri padat karya berorientasi ekspor yang akan diberikan fasilitas berupa pengurangan pajak melalui penghitungan berbasis kepada jumlah penyerapan tenaga kerjanya.

“Misalnya, mereka mempekerjakan sebanyak 1.000, 3.000 atau di atas 5.000 tenaga kerja. Itu kami akan berikan scheme tax allowance tersendiri. Ini yang sedang kami bahas dengan Kementerian Keuangan,” kata Airlangga.

Dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional, lanjutnya, pemerintah terus berupaya meningkatkan kinerja sektor manufaktur melalui berbagai langkah strategis. Di antaranya adalah menerbitkan sejumlah paket kebijakan ekonomi, melakukan deregulasi, serta memangkas berbagai peraturan, perizinan, dan birokrasi yang dirasa menghambat.

“Seluruh upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memudahkan para pelaku industri berusaha di Indonesia,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top