Hindari Politik Ujaran Kebencian

man-headphones
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (tengah) saat diwawancarai wartawan. (Foto: Istimewa/Puspen Kemendagri)

zonalima.com - KUALITAS demokrasi akan meningkat bila dalam proses kontestasi politik itu sendiri tidak dipakai cara-cara yang merusak demokrasi, seperti ujaran kebencian dan politik uang.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, media sosial (medsos) misalnya, saat ini sudah menjadi tempat untuk menyebar ujaran kebencian. Dari 800 ribu berita di medsos, yang benar hanya 200 ribu berita saja, sisanya sebagian besar berisi ujaran kebencian, hoax, fitnah, atau caci maki.

“Untuk tingkatkan kualitas demokrasi, hindari politik ujaran kebencian dan politik uang apapun bentuknya,” kata Tjahjo di Jakarta, seperti dilansir kemendagri.go.id, Rabu (6/12/2017).

Hal yang juga penting, jelas Tjahjo, menjaga stabilitas sosial dan politik. Ketika sebuah pesta demokrasi sarat dengan ujaran kebencian, fitnah dan hoax, maka yang muncul adalah kegaduhan. Bahkan, masyarakat bisa terpecah-belah.

Tjahjo menambahkan, ketika fitnah merajalela, atau ujaran kebencian marak disebarkan, maka sulit bagi rakyat untuk mendapat calon pemimpin yang berkualitas melalui Pilkada maupun Pemilu. Sebab, objektivitas dikalahkan oleh fitnah. Orang tak lagi memilih dengan objektif, tapi lebih banyak dipengaruhi oleh informasi yang menyesatkan, berita bohong atau karena termakan fitnah.

“Jadi pilih calon berkualitas dengan objektif enggak akan bisa. Problemnya lagi kepolisian baru bisa proses kalau ada pengakuan,  itu problemnya. Satu ditangkap tumbuh seribu. Biasanya fitnah, macem-macemlah,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top