Menkopolhukam Akui Pendekatan Soft Approach Terorisme

man-headphones
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto. (IST. dok: @polhukam)

Pendekatan dalam penanganan terorisme di tanah air tak lagi menggunakan cara kekerasan saat ini. Metode itu diungkapkan dalam Rapat Koordinasi Gubernur, Sekda dan Kepala Kesbangpol seluruh Indonesia yang digelar Kementerian Dalam Negeri.

"Pendekatan yang dilakukan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menggunakan soft approach ketimbang hard approach," kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, dalam rakor Kemendagri dengan gubernur seluruh tanah air, di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Dalam acara bertema Optimalisasi Peran Pemda Dalam Penanganan Radikalisme, Terorisme, dan Bencana tersebut, mantan Panglima TNI ini melanjutkan, kinerja BNPT itu saat ini mendapat apresiasi dari negara-negara sahabat.

Tak kurang dari lembaga keamanan Rusia, Malaysia, Singapura dan Australia meminta Indonesia menularkan metode pencegahan pidana terorisme untuk negara mereka.

"Cost pencegahan (terorisme) lebih murah ketimbang penanggulangannya," ujar Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima TNI (1998-1997) itu.

Mantan Ketum Partai Hanura itu mengungkapkan, dalam waktu dekat BNPT bakal menggelar rekonsiliasi antara para mantan terpidana perkara terorisme dan korban.

"Kami akan mempertemukan dalam waktu dekat antara mantan napi terorisme yang sudah mengakui kesalahannya di masa lalu dengan para korban aksi terorisme," kata mantan Panglima ABRI tahun 1998 itu.

Saat ini, kementerian pada bidangnya tengah menyoroti adanya indikasi pergeseran pengikut ISIS (Islamic State Iraq dan Syria) yang tengah menggeser konflik ke Myanmar (Rohingnya). "Kita sedang mewaspadai adanya indikator ISIS akan menggeser konflik ke Myanmar (Rohingnya) setelah kalah di Marawi, Filipina. Mereka diduga sedang mencari pengikut dari pengungsi Rohingnya yang sekarang mengungsi di Bangladesh," kata pendiri Partai Hanura tersebut.

 

 

 

 

Terpopuler

To Top