Pendanaan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dievaluasi

man-headphones
Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan. (IST. dok:@kemaritiman)

 Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan bakal mengevaluasi pendanaan pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Pengerjaan infrastruktur tersebut dianggap terlalu mahal lantaran pada awalnya berkisar 5,9 Miliar Dolar AS.

"Saya minta dievaluasi lagi. Kita mesti lihat dari pendanaan," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, di Gedung Kemenko Kemaritiman, Jumat (9/2/2018), di Jakarta.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Singapura itu, menambahkan, lantaran 'jumbonya' nilai dana dari proyek tersebut tak sesuai dengan idealnya rute proyek kereta cepat.

"Karena yang kami tahu selama ini, proyek itu paling tidak sesuai dengan panjang rute 302 km. Jadi, kalau hanya 140 km apakah feasible. Lalu bagaimana kita mengutak atik ini (proyek pengerjaan kereta cepat)," kata Luhut.

Penghitungan ulang, lanjut Luhut, dana proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung bakal dibahas akhir minggu atau akhir Februari ini. Kementerian BUMN bakal ia libatkan untuk mengevaluasi proyek tersebut.

"Jadi bakal ada pertemuan sekali lagi untuk menghitung dana. Saya akan minta Pak Sahala Lumban Gaol (Staf Khusus Menteri BUMN) untuk minggu depan melaporkan lagi. Karena tadi masih ada perbedaan pendapat tentang beberapa hal," kata mantan Dan Grup 3 Kopassus itu.

Dalam proyek pengerjaan kereta cepat Jakarta-Bandung, biaya yang dikeluarkan pemerintah mencapai US5,9 miliar atau setara Rp76,8 triliun (kurs Rp13.300), 25% dari duit itu didapat dari patungan konsorsium BUMN dan China.

Sisanya dari pinjaman CDB. Sekitar 25% itu, pihak China Railway International Co Ltd yang dalam konsorsium akan menyuntikkan dana sekitar 40% atau sekitar Rp7,5 triliun. Sedangkan 60% sisanya dimodali oleh BUMN yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) atau sekitar Rp11,5 triliun.

Terpopuler

To Top