Jejak Heroik Jawara Betawi

man-headphones Lokasi Pitung dikabarkan dimakamkan, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta. (IST. dok: tni.mild.id)

Makam itu terletak persis di pojokan depan Gedung Telkom, di bilangan ruas jalan protokol Kebayoran Lama, Grogol Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Berukuran tak lebih dari 5x5 meter, dua pohon kamboja dan empat pohon bambu yang terlihat baru bertunas menghiasi kuburan sederhana itu. Pagar tembok setinggi kira-kira satu meter, ikut mengelilinginya. Melihat kondisi yang seperti itu, orang mungkin tak menyangka, kalau makam itu merupakan kuburan milik jawara Betawi tempo dulu, Pitung. Pasalnya, tak ada batu nisan sebagai penunjuk si empunya "kapling".

Pusara si Pitung sering dikunjungi masyarakat setiap dari Jumat. Namun, pada musim penghujan, peziarah jarang terlihat. "Bisa sampai jam dua belas malam kalau lagi datang rombongan peziarah," ujar seorang pemuda yang sedang nongkrong di pos jaga di depan Gedung Telkom.

Tak jauh dari makam yang berada di Jalan Yusuf  ini, terdapat Sanggar Betawi si Pitung pimpinan Bachtiar.

Menurut Bachrudin, seorang anggotanya, komunitas budaya ini sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu dan didirikan oleh generasi sang Jawara.

Kegiatannya yakni melestarikan budaya asli Betawi, salah satunya dengan mengajarkan bela diri silat. Latihan biasanya diadakan pada hari Rabu dan Sabtu malam. Sekali latihan peminat yang datang bisa sampai seratusan orang. Mereka berasal dari beragam kalangan dan usia. Dalam menularkan tradisi Betawi secara turun temurun ini, komunitas tak memungut biaya pada warga yang berminat untuk mempelajari budaya Betawi.

Selain itu, sanggar ini juga menyediakan paket dekorasi  tradisional untuk pernikahan adat Betawi. "Kita matok tarif standarnya Rp500 ribu. Biasanya terdiri dari pertunjukan palang pintu, ondel-ondel, pelaminan dan arak-arakan," jelas Bachrudin.

Budaya Betawi yang kini mencoba bertahan dari kepunahan, sebenarnya sudah dipagari dengan aturan main.

Dalam UUD 1945 pada pasal 32 ayat 1 diamanatkan dan ditegaskan bahwa, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Selain itu, terdapat aturan turunannya yang menjaga cagar budaya atau kearifan lokal tak kandas termakan jaman. Salah satu contohnya, undang-undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (UU-CB) yang beberapa waktu lalu baru disahkan Komisi XI DPR RI.

Upaya merawat bangunan ini hingga sekarang hanya dilakukan ketua RT setempat dan anak keturunan Si Pitung. Menurut warga sekitar, situs legenda itu seolah terlupakan dari perhatian Pemerintah Provinsi Jakarta.   

Nyanyikan Indung-indung Sebelum Meninggal

Masyarakat khususnya di Jakarta pasti akrab dengan nama Pitung alias Solihun. Jawara Betawi itu dianggap pahlawan oleh rakyat kala itu karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. Ibu Pitung merupakan seorang perempuan keturunan Cirebon dan ayahnya berasal dari Tangerang.

Ia diperkirakan lahir pada tahun 1864. Namun, ada juga yang menganggap Pitung nama ormas yang berisi tujuh personel jawara ibukota tempo dulu.

Ridwan Saidi, budayawan Betawi mengatakan, Pitung merupakan tokoh nyata dan bukan misteri.

Dia bukan pula nama ormas yang terdiri dari tujuh puluh personel yang kerap didesas-desuskan.

"Jadi, bukan Pitung Pitulungan, atau Pitung Pitu`il. Bukan juga Pitung temannya Ismail," ujar mantan Ketua Umum PB HMI tahun 1974-1976 tersebut.

Dalam buku "Golok Wa Item, Sejarah Power System Sunda Kalapa" Ridwan menulis tentang sosok Pitung berasal dari kalangan jelata.

Ia tokoh asli Betawi yang pandai menulis dan membaca tulisan Arab. Selama tahun 1886 hingga 1894 Pitung telah melakukan beberapa pemberontakan tunggal.

"Tuan Gubernur begitu marah kenapa orang nama Pitung sudah begitu lama tidak bisa ditangkap. Maar orang itu sudah bikin guncang Kota Batavia. Saya jadi hairan waaroom Schout Hijne pigi maen dukun. Maar ini problem ada begitu rationeel, sudah banyak spoor sekarang pigi sana sini. Tuan GG perenta pada Hijne yang dia orang misti pasang mata-mata dimana spoor," kata Ridwan Saidi menirukan ucapan petinggi Batavia saat itu yang geram pada Pitung.

Sepak terjang Pitung dalam melakukan pemberontakan melawan penjajah akhirnya berakhir juga.

Ia ditangkap pada tahun 1894. Menurut Ridwan, Scout van Hijne, Kepala Polisi Batavia saat itu percaya pada dukun yang mengatakan Pitung bisa dilenyapkan oleh peluru berlapis emas. Nyawanya melayang di tangan tentara Belanda dengan empat peluru bersarang di tubuhnya. Sebelum ditembak mati, Pitung sempat minta dibelikan tuak dengan es sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. Syairnya berisi tentang kerinduan seseorang pada sosok ibu. "Ia menyanyi lagu lullaby atau nina bobo, indung-indung. Pitung ingat emaknya yang selalu menidurkannya sambil menyanyikan lagu Batavian Lullaby," kata Ridwan Saidi.

Meski masih menjadi polemik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat miniatur rumah Pitung yang berlokasi di kawasan Merunda Jakarta Utara. Terdapat sejumlah benda peninggalan yang ia gunakan semasa hidupnya.

Terpopuler

To Top