Menakar Peluang Jokowi Melaju ke Periode Kedua

man-headphones Presiden Jokowi dan keluarga (Foto: Ist/setkab.go.id)

zonalima.com - LINGKARAN Survei Indonesia (LSI) di bawah pimpinan Denny JA pada Januari lalu merilis hasil survei mereka. Survei itu digelar pada 7–14 Januari 2018 terhadap 1.200 responden. Hasilnya, elektabilitas (tingkat keterpilihan) Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika Pemilu digelar saat ini mencapai 48,50 persen. Sementara, elektabilitas gabungan kandidat capres pesaing Jokowi, termasuk Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sebesar 41,20 persen. Sedangkan sebanyak 10,3 persen responden lainnya belum menentukan pilihan. Menurut catatan LSI, posisi Jokowi ini belum aman karena masih di bawah 50 persen sehingga bukan tidak mungkin kandidat lainnya dapat menyalip Jokowi. Penyebab Jokowi belum aman adalah tiga isu, yakni permasalahan ekonomi, isu primordial, dan isu buruh negara asing.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pun tak mau ketinggalan. Awal Januari lalu mereka juga merilis hasil survei. Survei SMRC melibatkan 1.220 responden yang dipilih melalui metode multistage random sampling dengan margin of error 3,1 persen. Pengumpulan data dilakukan pada 7-13 Desember 2017. Hasilnya menunjukkan Jokowi adalah kandidat yang paling diunggulkan menjadi presiden jika Pemilu digelar saat ini. Namun, elektabilitas Jokowi saat pertanyaan diajukan secara spontan sebesar 38,9 persen. Sementara, Prabowo berada di urutan kedua dengan 10,5 persen. Disusul Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan 1,4 persen. Elektabilitas Jokowi terus menguat dari kandidat-kandidat lain sebesar 53 persen jika pertanyaan dilakukan dengan semi terbuka.

Elektabilitas Jokowi yang belum stabil dan masih di bawah angka 40 persen jika diajukan pertanyaan secara spontan juga ditunjukkan oleh hasil survei Median yang dilakukan pada 1 - 9 Februari 2018. Responden yang memilih Jokowi jika Pemilu Presiden (Pilpres) digelar saat ini sebesar 35,0 persen. Angka ini turun dibandingkan survei Median pada Oktober 2017, yakni Jokowi dipilih 36,2 responden. Sementara responden yang memilih Prabowo sebesar 21,2 persen. Angka ini juga turun dibandingkan survei Oktober 2017 di mana elektabilitas Prabowo 36,2 persen.

Menyikapi kondisi elektabilitas Jokowi yang masih di bawah angka 60 persen tersebut, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Alvara, Hasanuddin Ali mengatakan, posisi Jokowi untuk dapat memenangkan pertarungan di Pemilu 2019 bila digelar hari ini belum sepenuhnya aman, masih fifty fifty. Hasil survei Alvara sendiri menunjukkan bila responden diberikan pertanyaan secara terbuka soal siapa capres Pemilu 2019, yang menjawab Jokowi sebanyak 56,4 persen. Dan, mereka itu pun belum tentu seluruhnya akan memilih Jokowi. Peringkat elektabilitas Jokowi ini memang berbeda kondisinya dengan SBY ketika maju di periode kedua pada Pemilu 2009 lalu di mana elektabilitasnya bisa mencapai 70 persen.

“Kalau kita bicara angka itu untuk terpilih lagi kan 50 plus 1 persen, kalau di angka itu masih fifty fifty sebetulnya, dibilang aman ya masih belum, tapi peluang terbesar masih di Pak Jokowi,” kata Hasanuddin.

Survei Alvara itu dilakukan pada Februari 2018 dengan melibatkan 2.203 responden yang tersebar di 6 wilayah besar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali Nusa Tenggara, dan Maluku Papua dengan margin of error 2 persen. Namun, kepuasan terhadap kinerja Jokowi-Jusuf Kalla cukup tinggi, yakni mencapai 77,3 persen. Sebagian responden masih merasa belum puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dalam bidang ekonomi diantaranya soal stabilitas harga dan pemenuhan lapangan kerja.

Satu hal yang perlu dilakukan Jokowi untuk mendongkrak elektabilitasnya pada Pemilu mendatang adalah cermat menentukan cawapres yang akan mendampinginya nanti.

“Mungkin cawapres yang punya latar belakang pengusaha atau ekonom juga punya peluang dengan catatan elektabilitasnya akan naik, mendongkrak elektabilitas Jokowi,” kata Hasanuddin.

Namun, penilaian yang cukup meyakinkan soal elektabilitas Jokowi disampaikan Direktur Eksekutif Populi Center, Usep Syaiful Achyar. Menurutnya, saat ini Jokowi sudah memiliki sekitar 50 persen lebih pemilih loyal yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu ditunjukkan oleh hasil survei Populi Center pada Februari lalu di mana sebanyak 52,8 persen responden menyatakan akan memilih Jokowi jika Pemilu digelar hari ini saat diajukan pertanyaan terbuka. Dan, ketika dilakukan simulasi dengan nama kandidat capres lainnya, elektabilitas Jokowi terus menaik hingga di atas 60 persen.

“Kalau lihat pemilih Pak Jokowi itu, itu top of mind-nya sudah 50 persen. Ya bagi saya ya, kalau saya melihatnya itu relatif aman. Apalagi kalau dibanding dengan yang lain, saya lihat agak jauh ya,” kata Usep.

Sementara, Managing Director Manilka Research and Consulting, Herzaky Mahendra Putra menilai posisi Jokowi sudah lampu kuning. Saat ini tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi semakin mengkristal. Hal ini perlu mendapat perhatian serius Jokowi dan timnya.

“Jika ketidakpuasan ini semakin menemukan momentumnya dan pilihan capres semakin mengkerucut, bukan sekadar gagal menang satu putaran, Jokowi terancam tidak berhasil muncul sebagai pemenang di Pilpres 2019,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top