Patin Indonesia Berpotensi Kuasai Pasar Global

man-headphones
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Prabowo. (Foto. Ist/kkp.go.id)

zonalima.com - MENINGKATNYA ekspor patin Indonesia ke sejumlah negara membuat produk tersebut berpeluang besar untuk menguasai pasar global.

Sejak diberlakukannya kebijakan protesi impor patin, perkembangan industri patin Tanah Air makin menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.

Menurut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Prabowo, pemerintah terus menggenjot nilai ekonomi masyarakat salah satunya dengan menjadikan perikanan budidaya menjadi program prioritas.

Upaya serius tersebut dapat terlihat dengan pengalokasian anggaran terhadap perikanan budidaya oleh KKP. “Pemerintah sangat serius untuk bisa menggarap semua potensi perikanan Indonesia. Khususnya perikanan budidaya. Ibu Menteri tidak pernah meninggalkan perikanan budidaya, karena banyak hal-hal positif yang dilakukan budidaya, demikian banyak dan beragam,” ungkap Nilanto alam gelaran acara Marine and Fisheries Bussines and Investment Forum di Jakarta pada Rabu (11/4/2018).

Saat ini, lanjut Nilato, kebutuhan patin di mancanegara sedang memperlihatkan tren yang meningkat, misal di Tiongkok. Angka impor patin yang berasal dari negeri Tirai Bambu tersebut melonjak pesat mencapai 34.400 ton per tahun. Lalu, terdapat Thailand yang mengalami kenaikan impor patin 19.200 ton per tahunnya.

Pada permintaan pasar domestik, angka konsumsi ikan patin per kapita cenderung meningkat tiap tahunnya yakni mencapai 21,9 % terhitung dari tahun 2014 hingga 2017 dengan preferensi produk yang dikonsumsi ikan segar sebanyak 76%, ikan asing diawetkan 15%.

Di Amerika Latin, impor ikan patin juga menunjukkan kenaikan hingga 12,3 persen. Melejitnya kebutuhan patin pada sejumlah negara-negara tersebut menunjukkan tumbuhnya kesadaran konsumen terhadap kandungan gizi dan protein yang berasal dari ikan patin. "Meningkatnya kebutuhan patin di beberapa negara tersebut, merupakan kesadaran masyarakat dalam memenuhi gizi dan protein. Ini juga dapat dijadikan peluang bagi Indonesia, untuk menduniakan patin lokal," imbuh Nilato.

Demi mewujudkan upaya itu, pemerintah berusaha untuk menjadikan patin lokal sebagai kompetitor produk impor sejenis dan menjadi tuan di rumah sendiri.  

Pada perkembangannya, KKP terus menggenjot sejumlah kawasan untuk menjadi sentra produksi patin nasional.

“Wilayah Sumatera menyumbang 68,07 persen dari produksi nasional, dengan rincian wilayah Sumatera Selatan penyumbang terbesar yakni mencapai 47,23 persen. Ini trend positif seiring dengan permintaan pasar domestik dan internasional,” kata Nilanto.

Mengamini Nilanto, Vice President Operation Super Indo, Wirawan Winarto mengatakan permintaan pasar patin produksi dalam negeri cenderung mengalami peningkatan.

“Ikan patin saat ini menempati posisi ke 3 penjualan dengan angka 107 ton pada 2017. Yang dijual patin fresh yang masih hidup. Ada satu produk baru, patin fillet. Melejit semakin besar sampai saat ini,” kata Wirawan.

Ia mengimbau agar pembudidaya patin untuk menyuplai produk perikanan lantaran besarnya peluang. “Bagaimana caranya jadi supplier, sertifikat CBIB, kualitas bagus, dan harganya bersaing. Harapan kami adanya konsistensi dalam proses sertifikasi dalam budidaya ikan. Sehingga dapat mengelola budidaya ikan dengan baik,” kata dia. (*)

Terpopuler

To Top