Ratusan Fintech Tumbuh Dalam Setahun

man-headphones
Iklan Fintech. (Foto: Ist/Int)

zonalima.com - PERTUMBUHAN perusahaan financial technology (fintech) atau jasa keuangan yang mengandalkan pola peminjaman lewat aplikasi digital makin tumbuh subur di Tanah Air. Kondisi tersebut bisa dilihat dari jumlah perusahaan fintech yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Pertumbuhan industri fintech di Indonesia bertumbuh sangat pesat, terbukti dari satu jumlah pemain atau yang terdaftar di asosiasi itu ada 135 perusahaan fintech, yang terdiri dari fintech payment, landing dan maket profesioning, capital market, serta insuren," kata Wakil Ketua Asosiasi Fintech, Adrian A. Gunadi di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (13/4/2018).

Ia melanjutkan, dalam setahun ini angka tersebut melejit 10 kali lipat.

"Jadi 135 itu terbilang 10 kali lipat tumbuh dalam setahun ini gitu ya," kata Adrian.

Dia merinci, melesatnya pertumbuhan industri fintech disebabkan adanya gap inklusi kredit (hutang), bonus demografi yang unik serta kemajuan perkembangan teknologi internet dalam beberapa tahun belakangan.

Tak hanya itu, fintech juga memiliki keunikan karena pengguna atau debitur bisa melakukan upaya proses peminjaman dan pencairan yang bersifat lintas sektoral. Adrian mengimbau agar ada pendekatan khusus terhadap perusahaan fintech.

"Ini faktor-faktor yang membuat fintech jadi industri dan pasar yang menarik di Indonesia,” imbuh dia.

OJK sebelumnya mencatat terdapat 44 perusahaan financial technology (fintech) atau jasa keuangan (pinjam meminjam) yang berbasis aplikasi mobile. Data ini diperbaharui sejak 10 April 2018 kemarin.

Di tempat yang sama, Deputi Komisioner Institute OJK, Sukarela Batunanggar merinci, dari total 44 perusahaan, 43 diantaranya terdiri dari peer to peer lending (p2p) konvensional dan satu fintech syariah.

"Perusahaan terdaftar atau berizin konvensional ada 43, itu per 10 April ada 44 terdaftar di OJK," kata Batunanggar, Jumat (13/4/2018).

Dari 44 perusahaan tersebut, agregat jumlah pinjaman yang sudah pada bulan Februari 2018 senilai Rp3,54 triliun. "(Atau) meningkat 38, 23 persen year to date," kata Sukarela. (*)

 

 

Terpopuler

To Top