Ada Dewi di Sisi Kartosuwiryo

man-headphones
Kartosuwiryo dan Dewi Siti Kalsum. (Foto. Int)

zonalima.com - PRIA tua itu bersenjatakan keris "Ki Dongkol" yang ia anggap sebagai jimat saat sore di awal Juni 1962 silam dan terlihat sedang merebahkan diri di gubuk serta merasa lapar. Dia dikenal sebagai Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, "Imam Presiden Negara Islam Indonesia".  

Saat senja pada hari itu, matahari nyaris tenggelam. Sekarmadji juga mengalami luka di kakinya akibat terkena tembakan. Luka itu makin menjadikan tubuhnya rapuh akibat deraan penyakit kencing manis yang ia idap.

Beberapa menit kemudian, Letda Suhanda dari Batalyon 328 Kujang menyergap "Pemimpin Tertinggi Tentara Islam Indonesia" di perbukitan Hutan Rakutak pada kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat keadaan mulai gelap.

Kartosuwiryo menyerah pada 3 Juni 1962, usai 13 tahun ia melakukan gerilya di hutan-hutan lebat di Jawa Barat dan berstatus sebagai pemberontak.

Ia bersikap tenang saat menyerukan kepada pengikutnya untuk menyerahkan diri seraya menandatangani surat pernyataan di depan Letda Suhanda. Usai itu, ia menyalami sang perwira tersebut.

Pasca penangkapan Kartosuwiryo, 200 pengikutnya bersenjata lengkap kucar kacir. Pun demikian dengan Dewi Siti Kalsum, 55, yang tak diketahui rimba persembunyiannya.

Saat Kartosuwiryo ditangkap, Dewi sudah beberapa bulan terpisah dari sang suami. Ia mengambil strategi lain berpisah dengan induk pasukan yang mengawal Kartosuwiryo.

"Selama di hutan itu saya hanya makan buah-buahan, daun-daunan, dan minum air sungai," kenang Dewi yang saat awal Maret 1983 berusia 75 tahun.

Dewi bermukim di rumahnya yang terletak di Kampung Suffah, Desa Cisitu, Malangbong, Garut, puluhan tahun kemudian saat mengisahkan kejadian pasca menyerahnya Kartosuwiryo.

Mendengar suaminya menyerah, Dewi dan tujuh anaknya turun gunung menuju Garut menyerahkan diri. Usai diiterogasi beberapa hari berselang di Bandung. Ia kembali ke Cisitu. Beruntung, dirinya masih berhak mewarisi tanah yang cukup luas peninggalan orang tuanya, Kyai Ardiwisastera. Orang tuanya tercatat sebagai ulama terkemuka serta tokoh PSII di Garut. Dewi memutuskan bertani, menanam jagung dan padi.

Beberapa tahun lamanya dirinya tinggal sendirian di rumah kecil berdinding papan yang terletak pada jalan yang menghubungkan Malangbong - Wado - Sumedang. Meski begitu, ia tak merasa kesepian. Sebab, semua anak dan 11 cucu masih tinggal pula di desa tersebut. Malahan, dua putrinya yang sudah berkeluarga, Ika dan Danti, sering menjenguk dirinya.

Mengisi sisa-sisa harinya, ia saat itu berjualan air jeruk yang diedarkan ke warung-warung yang ada di sekitaran desa dan dikemas dalam bungkusan plastik. Menjelang uzur, Dewi yang tercatat pernah menamatkan pendidikan di HIS met de Quran Muhammadiyah Garut mengaku banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran. Mungkin, itu dilakukannya saat belasan bergerilya di hutan-hutan dulu itu ia tak pernah membaca. Ia sering membaca habis isi koran-koran bekas sekalipun.

Dewi tak bisa menjelaskan mengapa dirinya nekat menghabiskan sebagian waktunya bersusah payah mengikuti suaminya keluar masuk hutan kala itu. "Karena apa, ya, saya juga tidak tahu. Kalau disebut cinta misalnya, Bapak itu sebetulnya orangnya kan jelek," kenangnya dengan suara datar tapi lancar.

Rupanya sejak jaman penjajahan Belanda dulu, ia kerap keluar masuk hutan mengikuti suaminya. Dan dikenal sebagai istri orang pergerakan. Dewi selalu mondar-mandir berpindah-pindah antara Jakarta - Bandung- Yogyakarta. Bahkan, dirinya sering menumpang tinggal di rumah kenalan atau rumah kontrakan. Kondisi itu makin kental, bila Kartosuwiryo sebentar-sebentar berurusan dengan tahanan. "Kalau Bapak ditahan, saya pulang kampung. Juga kalau saya mau melahirkan," kata Dewi lagi.

Ia memiliki 12 anak, lima di antaranya meninggal. Tiga anak lainnya yang paling kecil dilahirkan ketika dirinya sedang bergerilya di hutan. Ketiganya yakni, Ika Kartika, Komalasari, dan Sardjono. Sedang yang lainnya dilahirkan di rumah. Mereka itu: Tatik (sulung, meninggal saat masih bayi), Tjukup (tertembak dan meninggal di hutan saat usia 16, 1951), Dodo Muhammad Darda, Rochmat (meninggal saat usia 10 tahun karena sakit), Sholeh (meninggal saat masih bayi), Tahmid Abdullah (meninggal ketika bayi), Tjutju (lumpuh), dan Danti. Ketika 1949 saat suaminya mulai memasuki hutan (awalnya karena menentang Perjanjian Renville), Dewi pun setia mengikutinya. Suaminya, mula-mula dikenal sebagai orang pergerakan, penentang rezim penjajah Belanda. Namun, belakangan malah melawan Republik Indonesia. Sebagai perempuan, ia mulanya takut hidup di hutan dengan kondisi yang menyeramkan. Terlebih saat itu ia sedang menggendong Danti yang masih berusia 40 hari.

Sempat terlintas pemikiran tentang masa depan anaknya ketika itu. Dirinya mengaku sempat tercenung sedih. Namun, suaminya kerap menghibur: "Kok sedih amat sih?" Lalu, biasanya dirinya kembali merasa tenteram. Hari ke hari pun kemudian ia merasa terbiasa tidur di hutan dengan beralas rumput basah, di akar kayu yang dingin, dan berjalan berhari-hari dengan perut dalam keadaan kosong.

Saat itu, ratusan ribu pengikut Kartosuwiryo sudah masuk hutan pula. Dengan setia ditemani istri dan anak mereka yang mengikuti. Menjadi istri pemimpin yang bergerilya dari dalam hutan, Dewi mengajarkan kehidupan bermasyarakat. Dirinya memberikan semacam kursus PKK pada istri-istri pengikut Kartosuwiryo, mulai dari jahit-menjahit pakaian dengan tangan, mengajar anak-anak menulis dan membaca huruf latin dan mengaji Quran.

Demi mengongkosi sehari-hari hidupnya usai menyerahnya Kartosuwiryo, Dewi bertani di areal seluas 6 Ha peninggalan Kyai Ardiwisastera. Areal tersebut bekas peninggalan Institut Suffah, sebuah pesantren yang didirikan Kartosuwiryo saat jaman penjajahan. Disitu pula, sang imam mengajarkan dan melatih prajurit-prajuritnya dengan senjata api.

Bekas batu bata reruntuhan pesantren yang dihancurkan Belanda pada 1948 ikut pula dijualnya sebagai bahan bangunan. "Sebenarnya meski hanya tinggal batu bata belaka, memiliki kenangan yang berarti bagi saya. Apa boleh buat, saya butuh uang untuk menyekolahkan Sardjono," katanya dengan nada datar.

Sardjono, putra bungsunya, pada 1983 kemarin sedang mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Sementara kakak-kakaknya, usai menyerah pada 1962 hanya sempat mengikuti kursus-kursus. Pasalnya, selama mengikuti Kartosuwiryo di hutan, mereka tak pernah mendapat pendidikan formal.

Kadang, sejumlah bekas pengikut Kartosuwiryo dan tokoh DI/TII memberikan sekedar uang pada dirinya saat berkunjung. Tapi, kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu.

Keadaan itu sudah berubah sejak 1977, terutama saat anaknya Dodo Muhammad Darda dan Tahmid ditangkap karena mengikuti jejak Adah Djaelani yang berusaha membangkitkan kembali "Negara Islam Indonesia" (NII).

NII pernah diproklamasikan Kartosuwiryo pada 7 Desember 1949. Pada Maret 1983, Adah Djaelani sedang menjalani sidang atas dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam kasus gerakan NII.

"Mereka sudah tidak ada yang datang kemari lagi. Lebaran pun tidak bersilaturahmi," kata Dewi.

"Barangkali mereka takut," imbuh ia.

Dewi memaklumi kondisi tersebut, pasalnya pada kurun 1983 silam, pemerintah saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan penangkapan terhadap bekas-bekas pengikut DI/TII.

Dewi mengaku sudah tak memiliki gairah berpolitik saat itu. Tapi, aksi yang dilakukan pemerintah Soeharto saat itu dengan Opsus-nya (Operasi Khusus) ia anggap tak sesuai dengan wasit "Imam" Kartosuwiryo.

Kartosuwiryo sebelum dieksekusi pada 1962 di sebuah teluk di pantai Jakarta, sempat mengucapkan pesan wasiat pada Dewi. Ketika berada di rumah tahanan militer, beberapa hari sebelum ditembak mati, sang "Imam" di depan Dewi dan anak-anaknya mengatakan "tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun."

Menyimak pesan wasit suaminya, Dewi menangis saat itu. Karto mencoba tegar saat itu sembari mengusap air mata istrinya.

Sebagian besar anak buah Karto, lanjut Dewi, sudah mengetahui isi pesan tersebut dan harus mematuhinya. Namun, kemunculan gerakan Darul Islam yang dipimpin Adah Djaelani sempat membuatnya terpekur.

"Disinilah sulitnya anak-anak itu. Mereka rupanya tidak minta petunjuk Tuhan. Mereka tidak berpikir matang-matang. Mereka itu sembrono sekali, padahal Bapak sudah berpesan tidak ada lagi perjuangan seperti itu," kata Dewi seraya mengeluh. Meski begitu, ada sebagian besar pula pengikut Kartosuwiryo yang mematuhi pesan sang Imam.

Petuah dari Dewi keluar dari mulut dirinya yang saat itu terlihat sudah keriput. Dan sebagian urat dari tangannya terlihat menonjol seolah menandakan penderitaan yang panjang.

Saat sebuah majalah ibukota mewawancarai Dewi 1983 silam, profil Dewi saat itu ialah istri mantan pemimpin DI/TII berusia lebih dari seabad dan masih terlihat sisa-sisa kebugaran di masa mudanya. Dewi mengaku sering minum jamu bikinannya saat berada di hutan dan dengan resep tertentu.

Ia mengungkapkan, rahasia itu diperoleh dari gemarnya ia mengkonsumsi jamu-jamuan yang berasal dari akar pohon tenaman tertentu. Kebiasaan itu ia lakukan, bahkan saat hidupnya diterpa morat-marit saat berada di hutan.

"Rasanya pahit sekali, tapi khasiatnya bagus," kata Dewi. Dia juga mengaku pikirannya masih  jernih saat itu.

Sebenarnya, Dewi lahir dari keluarga berkecukupan. Rupanya ia terkesan dan dekat dengan sikap hidup ayahnya. Di usia 8 tahun, ibunya Raden Rubu Aisyah pernah mengajaknya berjalan belasan kilometer ke Tarogong untuk menengok ayahnya yang berada dalam tahanan. Mungkin, pengalaman pahit itulah yang membekas di hatinya.

Pada 1916, terjadi keributan di Cimareme, Garut. Sejumlah ulama memelopori penentangan penjualan padi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Akibat sikap itu, Haji Sanusi dari Cimareme, ditembak mati. Tak hanya itu, Belanda juga melakukan penangkapan besar-besaran pengikut Haji Sanusi, salah satunya, ayah Dewi, serta santrinya.

Dua belas tahun kemudian, muncul sosok pemuda dari kota dan datang ke rumah Dewi. Dia memiliki daya tarik, pintar bicara. Selain itu, pemuda itu memikat Dewi lantaran terkenal karena menjadi sekretaris pribadi "singa podium" Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto). Ia, tiada lain, Maridjan, yang saat itu berusia 23 tahun. Kedatangan Maridjan saat itu bukan tanpa alasan ke rumah Kyai Ardiwisastera yang juga tokoh SI di Garut.

Maridjan saat itu sedang melakukan penggalangan dana dari para pengikut SI untuk keberangkatan Haji Agoes Salim ke Belanda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia salah satu tokoh terkenal juga saat itu.

Tapi, Maridjan tidak hanya mendapat uang saja di rumah Kyai Adiwisastera, melainkan juga seorang istri, yakni Dewi. Ia menikah saat itu juga, pada 1929.

Rupanya, gadis yang dipanggilnya Wiwi ini ada hubungan dengan "pertalian darah" dengan dia sebagai sesama keturunan Aria Penangsang --tokoh dari kawasan Jipang-- dalam Kerajaan Demak di abad ke-15 yang terlibat dan terbunuh dalam perebutan kekuasaan usai pamor "Native Mobile System" Demak merosot. "Semula saya bakal mantu Haji Agoes Salim," kata Maridjan pada Ateng Djaelani (tokoh DI lainnya). Lantaran Agoes Salim kalah debat dengan Maridjan, semuanya batal.

Maridjan dikenal sebagai tokoh SI dan pemimpin redaksi surat kabar Fadjar Asia. Tak heran ia membuat calon mertuanya terpikat. Rupanya pemuda kelahiran Cepu (Jawa Tengah) da pernah mengenyam pendidikan di sekolah kedokteran NIAS di Surabaya tersebut menguasai soal-soal kemasyarakatan. Maridjan banyak membaca buku tentang sosialisme dan komunisme yang mungkin diperoleh dari pamannya, Mas Marco Kartodikromo, jurnalis terkemuka saat itu.

Sebaliknya, sang menantu malah memanfaatkan mertuanya saat itu untuk mendirikan pesantren yang diberi nama Institut Suffah. Seiring berjalannya waktu, pesantren tersebut menjadi lokasi penentangan kebijakan Hindia Belanda dan menjadi basis pembentukan DI/TII usai proklamasi kemerdekaan.

Ardiwisastera belakangan mengikuti jejak menantunya bertualang di hutan dan meninggal pada pertengahan 1950 di sekitar Gunung Galunggung.

Kesan mendalam saat itu dari kehidupan Dewi yakni ketenangan sikapnya, bahkan bisa dibilang cenderung dingin. Ia menceritakan riwayat hidupnya yang berlumur duka derita tersebut dengan tenang dan tanpa letupan emosi. (*)

(Disarikan dari MBM Tempo 1983)

Terpopuler

To Top