Vonis Mati Pertama Bandit Narkoba

man-headphones
Terpidana mati narkotika asal Taiwan, Chang Sow Ven dan Wah Cheng. (Foto. doc: tempo)

zonalima.com - PENGADILAN Negeri Langsa, Aceh Timur menjatuhkan hukuman mati terhadap Lee Wah Ceng dan Chang Sow Ven. Keduanya warga negara Taiwan dan terbukti bersalah menyelundupkan heroin 9,5 kg ke wilayah Tanah Air.

Kedua terpidana mati itu divonis pada Selasa awal Maret 1983 silam.

Putusan mati tersebut merupakan amar hukuman mati perdana terhadap bandit narkoba di Indonesia.

"Biar pihak luar tahu sikap kita yang keras terhadap kejahatan semacam itu," kata ketua majelis hakim sidang perkara saat itu, Abdul Rahim Nasution, mengomentari alasannya menjatuhkan vonis itu.

Kisah kejahatan keduanya berawal begini:

Sekitar 23 Oktober 1982 silam, Kapal M.V. An Hsing yang memiliki banyak kru merapat di Pelabuhan Kuala Simpang Ulin, Aceh Timur. Dua orang awaknya, Wah Ceng (53 tahun) dan Sow Ven (59 tahun) mungkin tak sedang hoki saat itu. Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Belawan, Medan, dan berbendera Taiwan. Kapal tersebut bermaksud memuat kayu bakau. Rute kapal sedianya menuju Taiwan dari Tembilahan, Riau.

Keriuhan biasa terjadi saat kapal asing masuk buruh-buruh pelabuhan di Kuala Simpang saling berebut untuk memasukinya. Mereka menggantang harapan jika kebagian sisa makanan, rokok, atau minuman awak kapal. Nah, salah satu buruh, yang tergabung dalam Yayasan Usaha Karya (Yuka) ialah, Ilyas (25 tahun). Ia tak sengaja melihat Sow Ven, juru masak di kapal tersebut, sedang asyik memaku papan di dasar Palka I kapal itu. Ilyas iseng menanyakan Sow Ven sedang mengerjakan apa.

Rupanya yang ditanya tak menjawab. Tak sampai disitu, Sow Ven malah mengajak Ilyas ke geladak kapal serta memberinya hadiah, sepasang kaus tangan dan selembar kaos.

Ilyas terpancing untuk mengetahui gerangan apa yang membuat Sow Ven lagi baik hati saat itu. Ilyas terpancing ingin tahu: apa yang disimpan Sow Ven dibalik papan yang dipaku itu? Keesokan harinya Ilyas diam-diam memutuskan untuk berbalik naik kembali ke kapal dan membongkar papan misterius itu. Ternyata, dirinya menemukan dua bungkusan berisi bubuk mirip tepung. Sekilas ia menyangka, bubuk tersebut tepung kue. Ilyas lalu membagi-bagikan bubuk itu pada teman-temannya sesama buruh atas temuan yang ia kira rezeki itu.

Kebetulan pula, saat akan membawa "tepung" ke rumahnya, seorang petugas KP3, Serda Pol. Amran Nasution melihat gerak-geriknya. "Hanya tepung roti," kata Ilyas saat ditanya Amran. Amran rak percaya begitu saja. Bareng Bharatu Bustian Agustami dan petugas Bea Cukai, Hasballah Bakri, Amran meneliti tepung asal M.V. An Hsing tersebut. Kecurigaan Amran makin menjadi saat ia mencium bau tepung itu yang terasa aneh: rada-rada asam. Amran melaporkan temuannya malam itu juga pada komandannya di Langsa. Selidik punya selidik keputusannya gawat: tepung yang ditemukan Ilyas rupanya heroin.

Keesokannya, Amran bersama sejumlah petugas reserse menggeledah An Hsing. Sejumlah buruh-buruh yang sedang bekerja diperintahkan untuk berhenti bekerja dan mengumpulkan semua tepung yang dibagikan Ilyas sehari sebelumnya.

Di hari yang sama, petugas menemukan 16 bungkus bubuk heroin yang ditaksir 9,5 kg dengan harga Rp5 milyar. Petugas menjerat dua awak yang dianggap pelaku, si juru masak Sow Ven dan seorang perwira kapal Wah Ceng. Keduanya diringkus.

Pada persidangan, Wah Ceng mengungkapkan ia menerima narkotika itu dari seseorang yang baru dikenalnya saat berada di Bangkok, Thailand, bernama Chen Kou Hwa. Wah Ceng bercerita, kenalannya itu berawal saat dirinya berada di sebuah tempat pemandian uap (sauna). Chen Kou Hwa menawari Wah Ceng untuk membawa barang yang disebut bahan baku obat itu ke Taiwan. Atas jasa pengiriman itu, Wah Ceng dijanjikan mendapat imbalan Rp17,5 juta. Melalui modus menyimpan barang terlarang diantara tumpukan sayuran perbekalan di kapal. Seluruh barang titipan itu diselundupkan dari Bangkok lewat kapal. Wah Ceng membenarkan dirinya memerintahkan Sow Ven menyimpan barang titipan tersebut di kamar juru masak itu. Rencananya, kata Wah Ceng, barang terlarang itu bakal diterima langsung oleh pemesannya bernama Chen Kou Hwa sesampainya di Taiwan.

Wah Ceng dan Sow Ven membantah bila barang yang mereka bawa itu heroin. Keduanya mengaku ditipu Chen Kou Hwa saat dipersidangan. Saat ditanya jaksa Sunyata, Wah Ceng merasa tak mencurigai sama sekali janji Chen Kou Hwa, yang bakal memberinya imbalan lantaran untuk tepung obat itu. "Saya tidak begitu paham dengan nilai uang," kata Wah Ceng melalui penerjemah dalam persidangan. Ajaib. Parahnya, rekannya, Sow Ven, mengaku dirinya tak tahu ia sedang diadili di negara mana.

Keterangan keduanya, dianggap berbelit-belit dan membuat jengkel hakim, serta belakangan malah dipertimbangkan sebagai pemberat hukuman untuk keduanya.

"Tersangka tahu benar barang yang dibawanya itu heroin," kesimpulan hakim Abdul Rahim Nasution pada putusannya. Keduanya terbukti secara sah berusaha menyembunyikan barang-barang terkutuk itu. Kejahatan keduanya, menurut hakim, selain membahayakan manusia, juga ada itikad jelek kepada pemerintah Indonesia. Majelis hakim tak punya pilihan lain, kecuali mengganjar hukuman mati keduanya, sesuai dengan tuntutan Jaksa Sunyata. Tak puas atas vonis hakim, keduanya menyatakan banding terhadap amar putusan hakim.

Apa pun, vonis Pengadilan Tinggi nantinya di kemudian hari, putusan Pengadilan Negeri Langsa tercatat sebagai pengadilan pertama yang menjatuhkan hukuman mati terhadap kejahatan narkoba saat itu. Mengacu Undang-undang anti-nakotik (UU Nomor 9 Tahun 1976) saat itu, rupanya Pengadilan Negeri jakarta Pusat sekitar 1980 silam pernah mengganjar hukuman seumur pada Lim Teng Pheow, warganegara Singapura yang terbukti menjual 1.920 gram heroin di Tanah Air.

Sayangnya, beberapa bulan kemudian usai vonis pengadilan tingkat pertama dijatuhkan, Pengadilan Tinggi Jakarta malah memperingan menjadi vonis 10 tahun penjara untuk Lim. Lantaran vonis itu, Ketua Majelis Hakim pada perkara itu, D.J. Staa yang memvonis ringan tersebut, tak berselang lama "dirumahkan" oleh Menteri Kehakiman. (*)

(Disarikan dari MBM Tempo)

Terpopuler

To Top