Melawan Teror Bom

man-headphones Teror bom di tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) pagi. (Foto: Ist/youtube.com)

zonalima.com - SERANGAN teror bom bunuh diri ke tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) pagi, yakni Gereja Katolik Santa Maria, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, telah mengusik rasa kemanusiaan. Tak hanya bagi masyarakat Indonesia, namun juga dunia.

Perbuatan teror bom itu tentu tak dapat dibenarkan oleh siapapun, agama maupun negara manapun. Perbuatan itu merupakan perbuatan yang biadab, terkutuk, dan keji. Tak sedikit menimbulkan korban jiwa.

Hari hari ini, Indonesia menghadapi ancaman teror bom tersebut. Bahkan, setelah serangan teror di tiga gereja di Surabaya, bom kembali meledak di rusunawa Wonocolo Sidoarjo. Pihak kepolisian merilis, aksi bom di tiga gereja di Surabaya dan rusunawa Wonocolo sementara mengakibatkan 17 orang meninggal dunia dan 43 orang mengalami luka-luka.

Senin (14/5/2018) pagi, teror bom bunuh diri kembali terjadi di Mapolrestabes Surabaya. Sementara, pihak kepolisian belum dapat memastikan berapa jumlah korban akibat serangan teror bom tersebut.

Menyikapi teror bom yang terjadi di Surabaya, Ketua Dewan Perwakilan (DPD) RI Oesman Sapta, menyebut sebagai darurat teror. Intensnya serangan teroris dalam beberapa hari terakhir ini menjadi pelajaran bagi aparat keamanan.

“Rasanya tidak berlebihan jika saya menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai darurat teror. Aparat dan masyarakat di seluruh daerah harus bersatu untuk memerangi situasi ini serta menjaga bangsa kita,” tegas pria yang akrab disapa OSO ini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutuk keras aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya. Jokowi menyebut teror bom itu sebagai aksi biadab. Negara tidak akan tinggal diam untuk mengusut jaringan pelaku teroris.

“Tindakan terorisme kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan,” tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. Semua ajaran agama menolak terorisme, apa pun alasannya. Meski belakangan, kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di Surabaya tersebut sebagaimana dilansir kantor berita ISIS, Amaq News Agency, seperti dilansir oleh situs siteintelgroup.com.

“Pagi tadi saya sudah memerintahkan kepada Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan saya perintahkan untuk membongkar jaringan itu sampai akar-akarnya,” kata Jokowi.

Seluruh aparat, jelas Jokowi, tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini dan mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Bhinneka-an.

“Saya juga mengimbau seluruh rakyat di seluruh pelosok tanah air agar semua tetap tenang, menjaga persatuan dan waspada. Hanya dengan upaya bersama seluruh bangsa terorisme dapat kita berantas kita harus bersatu melawan terorisme,” seru Jokowi.

Para pemuka agama pun mengutuk keras aksi teror bom ini. Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Krise Gosal saat membacakan pernyataan resmi PGI atas serangkaian bom bunuh diri di Surabaya, Minggu, mengatakan, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan. Agama apapun mengajarkan kemanusiaan, damai dan cinta kasih. Kesesatan berpikirlah yang membawa penganut agama melakukan kekerasan dan tindak terorisme.

PGI mengajak semua masyarakat untuk mendukung sepenuhnya tindakan negara dalam memberantas semua perilaku kekerasan dan aksi terorisme di Indonesia.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. MUI tidak mentoleransi kekerasan, tak terkecuali radikalisme dan terorisme. Bunuh diri maupun membunuh orang adalah perbuatan keji dan dosa besar.

“Oleh karena itu, MUI meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut masalah ini secara tuntas,” tegas Anwar.

Terpisah, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengimbau agar masyarakat waspada. Ikut meningkatkan deteksi dini di wilayahnya masing-masing. Siskamling harus digalakkan. Keharusan tamu wajib lapor 1X24 jam, mesti diberlakukan lagi. Jika menangkap gelagat, misal ada orang asing atau tamu yang mencurigakan, segera lapor ke RT atau RW setempat.

Berangkat dari apa yang terjadi akhir-akhir ini, merupakan momentum untuk semua elemen bangsa berani menentukan sikap siapa kawan, siapa lawan. Mereka, baik perorangan atau kelompok yang nyata-nyata sudah mengancam keutuhan NKRI, ingin merubah ideologi negara, adalah musuh republik yang harus dilawan oleh semua elemen bangsa.

“Ini saatnya kita berani menentukan sikap siapa kawan siapa lawan terhadap  perorangan atau kelompok yang jelas-jelas ingin mengubah NKRI dan mengganti Pancasila. Mereka adalah musuh republik yang harus kita lawan,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top