Lima Bulan Terakhir, Rata-rata Dukcapil Layani 34 Ribu Perekaman KTP-el Per Hari

man-headphones
Mendagri Tjahjo Kumolo (Foto: Ist/Puspen Kemendagri)

zonalima.com – KEMENTERIAN Dalam Negeri (Kemendagri) bersama jajaran Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) terus berupaya memaksimalkan perekaman data kependudukan untuk penerbitan KTP elektronik (KTP-el) bagi seluruh warga di pelosok Tanah Air. Tak terkecuali di hari libur lebaran Idul Fitri 1439 H kali ini.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, pada libur lebaran tahun ini sebanyak 244 kantor Dinas Dukcapil yang tersebar di 32 provinsi tetap buka dan melayani perekaman data kependudukan dan KTP-el setiap harinya.

“Ini menggembirakan karena menjadi satu-satunya dinas yang secara massif masih memberikan layanan di hari libur lebaran. Hanya Provinsi Papua Barat dan Kaltara (Kalimantan Utara) yang tidak ada lembur sama sekali,” kata Tjahjo di Jakarta, Rabu (20/6/2018).

Melihat perkembangan layanan administrasi kependudukan sejak Januari hingga Mei 2018, kata Tjahjo, rata-rata dinas Dukcapil seluruh Indonesia melayani sekitar 34 ribu lebih perekaman per harinya. Pada Mei 2018, tercatat sebanyak 732.087 penduduk telah melakukan perekaman.

“Selama 5 bulan ini rata-rata per hari adalah  34.074 perekaman per hari,” kata Tjahjo.

Terpisah, Direktur Jenderal (Dirjen) Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, kapasitas maksimal perekaman seluruh Indonesia sebanyak 327 ribu per hari. Melihat perkembangan data perekaman yang ada, kapasitas yang tersedia ternyata belum digunakan secara menyeluruh.

“Andaikata jumlah penduduk yang merekam 100 ribu saja, hanya memanfaatkan 30 persen dari kapasitas yang ada, maka perekaman akan selesai di Desember 2018,” tutur Zudan.

Zudan mengatakan, jumlah penduduk yang belum merekam hingga saat ini tercatat sekitar 10 juta penduduk, dengan 6, 9 juta diantaranya adalah pemilih pemula. Sisanya sekitar 3 juta penduduk adalah non pemilih pemula.

Untuk pemilih pemula, lanjutnya, jajaran Dukcapil hingga daerah menggunakan strategi jemput bola ke sekolah-sekolah SMA dan pondok-pondok pesantren melakukan perekaman. Upaya ini efektif karena pemilih pemula terdata dengan baik dan sedang menempuh pendidikan di SMA, SMK, atau pondok pesantren.

Sementara, untuk 3 jutaan penduduk non pemilih pemula, sambungnya, memang diperlukan strategi khusus.

“Strategi ini diperlukan karena penduduk ini tidak semua proaktif (melakukan perekaman) walaupun sudah dilakukan jemput bola. Kuncinya proaktif penduduk,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top