Cegah Terorisme, BNPT Ajak Negara-Negara PBB Tingkatkan Peran Pemuda

man-headphones
Kepala BNPT Suhardi Alius saat berbicara di KTT Badan Anti Teror se-Dunia yang digelar di kantor pusat PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat (29/6/2018) siang waktu setempat. (Foto: Ist/BNPT)

zonalima.com - NEGARA anggota PBB memiliki peran penting, utamanya dalam strategic communication dalam menangani penyalahgunaan internet, termasuk media sosial untuk tujuan-tujuan terorisme. Untuk itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, mengajak para anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  untuk dapat terus meningkatkan peran dan keterlibatan pemuda dalam upaya pencegahan terorisme, termasuk upaya kontra radikalisasi.

Demikian dikatakan Suhardi saat mewakili Indonesia dalam menghadiri undangan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diikuti para pimpinan Badan Anti Teror yang ada di dunia. Acara yang digelar oleh PBB tersebut bertema ‘Strengthening International Cooperation to Combat the Evolving Threat of Terrorism’ dan digelar di kantor pusat PBB, New York, Amerika Serikat, 28-29 Juni 2018.

“Kami mengajak negara anggota PBB, termasuk institusi PBB untuk dapat meningkatkan kerja sama internasional dalam penanggulangan terorisme. Untuk itu mari kita bersama-sama untuk menciptakan dunia yang damai dan harmonis,” kata Suhardi dalam paparannya Jumat (29/6/2018) siang waktu setempat.

BNPT sendiri, kata Suhardi, telah mendirikan Pusat Media Damai (PMD) di bawah program kontra-radikalisasi.

“Tujuan dari program ini adalah untuk menyebarluaskan kontra-narasi online dan offline dengan mempromosikan nilai-nilai toleransi dan moderasi serta mengambil bagian dalam program ketahanan nasional, mempromosikan falsafah negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Suhardi.

Dalam KTT tersebut, Suhardi turut menyampaikan keberhasilan Indonesia yang telah berhasil mengamenden Undang-Undang (UU) Pemberantasan Terorisme.

“Dimana Undang-Undang tersebut mengedepankan pendekatan berimbang antara pendekatan keras (hard approach) dan dengan pendekatan lunak (soft approach), sehingga termuat aspek-aspek pencegahan melalui kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi,” katanya.

Lebih lanjut, Suhardi mengatakan, BNPT saat ini sedang menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Penanggulangan Terorisme dengan mengedepankan whole of government and whole of society approach. 

“RAN ini bertumpu pada empat pilar, yakni pencegahan, deradikalisasi, penegakan hukum dan penguatan legislasi, dan kemitraan dan kerja sama internasional,” tuturnya.

Seperti diketahui, KTT yang mengumpulkan para pimpinan Badan Anti Teror seluruh dunia ini merupakan konferensi pertama yang diselenggarakan PBB. KTT ini bertujuan untuk membangun kemitraan baru dalam kerja sama multilateral guna meningkatkan upaya-upaya penanggulangan terorisme oleh masyarakat internasional.  Selain para pejabat pemerintah, peserta Konferensi ini juga berasal dari organisasi-organisasi regional dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). (*)

Terpopuler

To Top