Wakil Presiden Badan Antiteror Jerman Kunjungi Ponpes Mantan Teroris

man-headphones
Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius (kiri) dan Wakil Presiden Bundeskriminalamt (BKA) atau Badan Antiteror Jerman Michael Kretschmer (kanan). (Foto: Ist/BNPT)

zonalima.com - MODEL pendekatan lunak (soft approach) dalam penanggulangan terorisme yang telah dijalankan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali mendapat apresiasi dari dunia internasional. Kali ini dibuktikan dengan kunjungan Wakil Presiden Bundeskriminalamt (BKA) atau Badan Antiteror Jerman, Michael Kretschmer, ke Pondok Pesantren Al Hidayah, Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (11/7/2018). Pondok pesantren ini diasuh mantan teroris Khairul Ghazali dan sebagian besar santrinya adalah anak-anak mantan teroris.

Kunjungan itu tidak lain adalah untuk melihat langsung sekaligus studi banding BKA yang akan mencontoh program soft approach yang nantinya akan diterapkan di Jerman. Pasalnya, meski selama ini Jerman memiliki pengalaman dalam menangani terorisme, terutama ekstrem kanan dan kiri, tapi untuk pendekatan lunak, mereka masih awam.

Kedatangan delegasi Jerman hanya berselang sepekan setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok ke TPA Baitul Muttaqin dan Yayasan Lingkar Perdamaian di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Di tempat ini, BNPT merangkul 37 mantan teroris yang telah ‘sembuh’ dipimpin Ali Fauzi, adik bomber Bom Bali 1,  Amrozi, untuk mengelola boarding school bagi keluarga dan anak mantan teroris.

“Dua tempat ini sekarang telah menjadi ikon dunia dalam penanganan terorisme. Buktinya hari ini Wapres BKA datang langsung belajar dan saling menggali pengalaman. Minggu lalu, Menlu Belanda juga ke Lamongan, dan akhir bulan ini, Badan Antiteror Jepang juga akan berkunjung ke Lamongan,” kata Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius.

Menurut Suhardi, di dua tempat itulah, BNPT mencari titik balik supaya para mantan teroris dan keluarganya bisa diterima kembali di masyarakat, sekaligus memberikan kesempatan kedua untuk menjadi manusia bagi nusa dan bangsa. Hasilnya, meski belum genap setahun, para santri di Ponpes Al Hidayah ini sudah jauh berbeda dibandingkan di awal-awal program ini dijalankan.

“Lihat saja anak-anak (santri) di sini, dulu saat kali pertama kami datang, mereka seperti takut dan tidak mau berinteraksi, sekarang lihat saja dan tanya mereka cita-citanya, ada yang mau jadi polisi, ustadz, bahkan jadi kepala BNPT. Dulu mereka takut dan jauh dari masyarakat sekitar, sekarang telah bergabung dan terintegrasi,” kata Suhardi.

Suhardi menambahkan, rencananya BNPT kembali akan membangun satu ponpes serupa di Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng), yang juga akan dikelola mantan teroris dan keluarganya. Ia berharap cara-cara soft approach ini menjadi contoh baik dalam bersinergi dengan dunia internasional dalam penanganan terorisme.

Sementara itu, Wapres BKA Michael Kretschmer memberikan apresiasi tinggi terhadap cara BNPT melakukan soft approach. Ia pun menjadi sadar bahwa penanganan terorisme tidak harus dengan cara menanggulangi (hard approach), tapi juga bisa dengan pendekatan lunak dengan mengatasi dari hulu.

“Teroris ada di semua negara, termasuk di Jerman. Makanya saya tertarik dengan program pencegahan yang telah dilakukan BNPT. Hari ini kami datang untuk studi banding sekaligus belajar bagaiman cara mencegah seseorang agar tidak menjadi teroris dan membuat orang yang sudah pernah menjadi teroris agar tidak kembali,” ujar Kretschmer. (*)

Terpopuler

To Top