Triwulan I Tahun 2018, Industri Makanan Minuman Tumbuh 12,70 Persen

man-headphones
Menperin Airlangga Hartarto saat meninjau pabrik PT Coca-Cola Indonesia di Bali, Jumat (27/7/2018). (Foto: Ist/kemenperin.go.id)

zonalima.com - INDUSTRI makanan dan minuman nasional masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup baik karena didukung oleh sumberdaya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar. Laju pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman pada triwulan I tahun 2018 mencapai 12,70 persen.

“Dan berkontribusi hingga 35,39 persen terhadap PDB industri non-migas,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat meninjau pabrik PT Coca-Cola Indonesia di Bali, Jumat (27/7/2018).

Khusus industri minuman di dalam negeri, kata Airlangga, mampu tumbuh 8,41 persen pada semester I tahun 2018. Kinerja positif ini tentu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi, produk minuman ringan akan terus tumbuh seiring dengan kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan produk minuman yang praktis dibawa, aman atau higienis, harganya terjangkau, dan memiliki nilai tambah. Industri minuman ringan meliputi produsen air minuman dalam kemasan, minuman berkarbonasi, minuman teh siap saji, minuman jus dan sari buah,  minuman kopi dan susu, serta minuman isotonic (sport dan energy).

Kemenperin mencatat, hingga tahun 2016, jumlah industri minuman ringan mencapai 335 unit usaha dengan kapasitas produksi sebesar 4,7 juta ton per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 48 ribu orang. Sedangkan, nilai ekspornya berada di angka USD83 juta dan nilai investasi tembus Rp12,2 triliun.

Industri makanan dan minuman di dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga cukup banyak sektor industri kecil dan menengah (IKM). Direktur Jenderal (Dirjen) IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, IKM makanan dan minuman mempunyai andil signifikan terhadap kemajuan ekonomi nasional.

“IKM makanan dan minuman berkontribusi sebesar 40 persen terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan, dan mampu menyerap tenga kerja hingga 42,5 persen dari total pekerja di sektor IKM,” kata Gati seperti dilansir kemenperin.go.id.

Oleh karena itu, IKM makanan dan minuman menjadi salah satu sektor prioritas dalam penerapan program e-Smart IKM seiring implementasi industri 4.0 di Tanah Air. Hingga bulan Mei 2018, jumlah pelaku IKM yang telah mengikuti workshop e-Smart IKM berjumlah 2.430 IKM, dan lebih dari 30 persen peserta berasal dari pelaku IKM makanan dan minuman.

“Melalui program e-smart IKM, kami ajarkan mereka mengenai caranya jualan online,” tutur Gati.

Dalam pelaksanaannya, lanjutnya, Kemenperin telah menggandeng lima marketplace dalam negeri, yakni Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Blanja.com dan Blibli. “Marketplace itu diantaranya sudah unicorn,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top