Gempa 7 SR di NTB, Sementara 82 Orang Meninggal Dunia

man-headphones
Ribuan rumah rusak akibat gempabumi 6,4 SR di wilayah Lombok dan sekitarnya pada Minggu (29/7/2018). (Foto: Ist/BNPB)

zonalima.com – Gempabumi berkekuatan 7 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (5/8/2018) malam. Gempa ini memberikan dampak yang luas. Hingga Senin (6/8/2018) dini hari pukul 02.30 WIB tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa, ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerusakan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, ribuan warga mengungsi ke tempat yang aman.

“Aparat gabungan terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat akibat gempabumi,” kata Sutopo kepada wartawan Senin dini hari.

Sutopo mengatakan, daerah yang terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram. Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, korban meninggal berasal dari Kabupaten Lombok Utara 65 orang, Lombok Barat 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 4 orang, dan Lombok Timur 2 orang.

“Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh,” kata Sutopo.

Korban luka-luka, jelas Sutopo, banyak yang dirawat di luar puskesmas dan rumah sakit karena kondisi bangunan yang rusak. Selain itu gempa susulan terus berlangsung. Hingga Minggu pukul 22.00 WIB terjadi 47 kali gempa susulan dengan intensitas gempa yang lebih kecil. BMKG menyatakan bahwa gempa 7 SR adalah gempa utama (main shock) dari rangkaian gempa sebelumnya.

“Artinya kecil kemungkinan akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar,” kata Sutopo.

Tim SAR gabungan, lanjutnya, masih terus melakukan evakuasi dan penyisiran. Kondisi malam hari dan sebagian jaringan komunikasi yang mati menyebabkan kendala di lapangan. Diperkirakan korban terus bertambah. Jumlah kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan.

Kepala BNPB Willem Rampangilei bersama jajaran BNPB telah tiba di Lombok Utara menggunakan pesawat khusus dari Bandara Halim Perdanakusuma. Tambahan bantuan logistik dan peralatan segera dikirimkan. BNPB menggunakan 2 helikopter untuk mendukung penanganan darurat.

BNPB, sambung Sutopo, terus mendampingi Pemerintah Daerah (Pemda), baik Pemda Provinsi maupun Kabupaten/Kota terdampak. Penanganan darurat terus dilakukan. BNPB bersama BPDB, TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Sosial (Kemensos), Kementerian BUMN, SKPD, NGO, relawan dan lainnya terus melakukan penangan darurat. TNI akan memberangkatkan tambahan pasukan dan bantuan, khususnya bantuan kesehatan, yaitu tenaga medis, obat-obatan, logistik, tenda, dan alat komunikasi.

Sutopo mengatakan, fokus utama saat ini adalah pencarian, penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat yang terdampak gempa serta pemenuhan kebutuhan dasar. Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenaga medis, air bersih, permakanan, selimut, tikar, tenda, makanan siap saji, layanan trauma healing dan kebutuhan dasar lainnya.

“Kegiatan belajar mengajar di sekolah di wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, dan Mataram akan diliburkan pada Senin karena dikhawatirkan bangunan sekolah membahayakan siswa. Akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu oleh petugas,” ujar Sutopo. (*)

Terpopuler

To Top