Kemensetneg Sulap Hutan Kota Kemayoran Jadi RTH Berkelanjutan

man-headphones
Hutan Kota Kemayoran. (Foto: Ist/sukita.info)

zonalima.com – KEMENTERIAN Sekretariat Negara (Kemensetneg) kini punya program yang dinamakan Three Wonderful Journey Hutan Kota Kemayoran. Melalui program ini, hutan kota  seluas 12 Hektar (Ha) diubah menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) berkelanjutan, sebagai sarana rekreasi, edukasi, dan konservasi. Program ini pun kini masuk sebagai salah satu program Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018.

Sejak tahun 2016, Kemensetneg mulai melakukan penataan dan penambahan fasilitas fisik. Pertama adalah perjalanan di rawa, setelah itu ekspedisi hutan. Selain itu adventure di danau. Semua fasiltas yang ada bisa digunakan masyarakat secara bebas, dan juga untuk  fasilitas komersial lainnya.

“Mungkin nanti sebagian bisa untuk acara pre wedding, meeting hingga launching produk baru,” kata Direktur Utama Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPKK) Dwi Nugroho seperti dilansir menpan.go.id.

Dwi mengatakan, masyarakat sekitar pun terlibat dalam pemeliharaan hutan kota, melalui Rencana Pembangunan Terpadu. Program inovasi ini berdampak mengurangi degradasi lingkungan kota sebagai penampungan air yang dapat membantu dalam menyelesaikan banjir kota. Dampak positif lainnya, membantu menjaga keseimbangan ekosistem dengan kehadiran kembali burung-burung yang sempat menghilang dari hutan kota.

Pemanfaatan hutan kota ini juga sebagai pusat kegiatan komunitas yang bermanfaat bagi publik, dan sarana edukasi bagi masyarakat umum mengenai lingkungan  maupun civitas akademika dalam melakukan penelitian.

Inovasi ini, jelas Dwi, dilatarbelakangi kenyataan bahwa Jakarta hanya memiliki RTH di kisaran 9-10 persen. Padahal,  menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota di Indonesia diwajibkan memiliki RTH publik seluas 30 persen. Sesuai arahan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, revitalisasi hutan kota Kemayoran ini dilakukan bekerjasama dengan berbagai komunitas pecinta lingkungan, instansi pendidikan, dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Dimulai dari pengerukan sedimentasi lumpur, pembersihan eceng gondok dan sampah secara rutin, hingga perbaikan sistem pemeliharaan dengan mengikutsertakan masyarakat secara aktif. Semula, kawasan hutan kota yang letaknya berdekatan dengan pemukiman penduduk itu tidak terawat dengan baik.

“Dengan inovasi ini, kini Hutan Kota Kemayoran menjadi RTH berkelanjutan,” kata Dwi.

Dwi menambahkan, untuk keberlanjutan inovasi ini perlu dimonitor secara berkala untuk menjaga lingkungan hutan kota serta melakukan pengembangan secara terus-menerus, baik dari segi lahan hijau maupun sarana dan prasarananya. Serta, secara aktif mengajak masyarakat berpartisipasi dalam keberjalanan program ini.

Program ini, sambung Dwi, dapat direplikasi dari segi konsep revitalisasi lahan pasif yang diubah menjadi fasilitas pendidikan dan rekreasi aktif bagi masyarakat. Penerapan sistem ini dapat dilaksanakan di seluruh kota di Indonesia, baik oleh pihak pemerintah maupun swasta.

“Apalagi kebutuhan akan ruang terbuka hijau sangat dibutuhkan di tengah maraknya pembangunan di Indonesia,” ujarnya. (*)

Terpopuler

To Top