Tanggap Darurat Bencana Gempabumi NTB Diperpanjang, 387 Orang Meninggal Dunia

man-headphones
Ribuan rumah rusak akibat gempabumi 6,4 SR di wilayah Lombok dan sekitarnya pada Minggu (29/7/2018). (Foto: Ist/BNPB)

zonalima.com - PENANGANAN darurat bencana gempabumi 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) terus diintensifkan. Masa tanggap darurat penanganan dampak gempabumi di NTB berakhir hari ini, Sabtu (11/8/2018). Namun dengan pertimbangan masih banyak masalah dalam penanganan dampak gempa, akhirnya Gubernur NTB memutuskan untuk memperpanjang 14 hari masa tanggap darurat yaitu terhitung Minggu (12/8/2018) hingga Sabtu (25/8/2018) dua pekan mendatang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kondisi di lapangan masih banyak permasalahan, seperti masih adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan yang masih terus berlangsung, bahkan gempa yang merusak dan menimbulkan korban jiwa, dan lainnya.

“Dengan adanya penetapan masa tanggap darurat, maka ada kemudahan akses untuk pengerahan personel, penggunaan sumberdaya, penggunaan anggaran, pengadaan barang logistik dan peralatan, dan administrasi sehingga penanganan dampak bencana menjadi lebih cepat,” kata Sutopo kepada wartawan, Sabtu.

Jumlah korban gempa, lanjut Sutopo, terus bertambah. Hingga Sabtu tercatat 387 orang meninggal dunia dengan  sebaran Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, dan adanya korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan ke posko.

Sementara itu, kata Sutopo, sebanyak 13.688 orang luka-luka. Pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.  

Sedangkan kerusakan fisik masih sama jumlahnya, yaitu 67.875 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. Angka ini juga masih sementara. Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas.

“Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB untuk selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah,” kata Sutopo.

Hingga H plus 6, tambah Sutopo, masih terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan dan Pemenang yang aksesnya sulit dijangkau. Juga di beberapa titik di Lombok Barat. Bantuan logistik terus berdatangan.

Permasalahan utama adalah distribusi logistik untuk mengirimkan ke ribuan titik pengungsian. Akses jalan menuju lokasi pengungsi juga rusak. Sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan akibat gempa.

“Oleh karena itu percepatan distribusi logistik menjadi prioritas saat ini, selain pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi,” ujar Sutopo. (*)

Terpopuler

To Top